senyum & tularkan!™

Icon

an invitation to care.

Hadiah Mauludan dari Sariwangi

Kemarin saya mendapat hadiah. Senang sekali, karena mulai dari tanggal 8 (harlah saya), 9 (maulid nabi), 10 (harlah Raditia Firnandi), 11 (jam 11 siang; sidang Tugas Akhir Indri Ayu Lestari) maret 2009 saya yakinkan saya pasti dapat hadiah.. tidak terkecuali kemarin.

Berawal dari kengototan saya untuk pulang dengan jalan kaki saja dari rumah Inday (Indri Ayu Lestari) di Desa Sariwangi, entah kenapa alhamdulillah saya mendapat percakapan yang menyenangkan. Inday bilang saya mestinya naik ojek saja untuk sampai pada rute angkutan umum terdekat; saya menolak. Saya mau jalan kaki saja, malam-malam begini enaknya untuk berkontemplasi sambil olahraga he he he. Ketika baru separuh jalan dari pangkalan ojek, tiba-tiba seorang bapak-bapak menawarkan saya untuk dia antarkan. Lumayan! beliau katalisator kontemplasi saya he he…

Mungkin karena adatnya seperti itu ya, di jalanan yang minim cahaya karena tidak ada lampu jalan ada saja orang yang menawarkan diri untuk membonceng orang lain yang lagi jalan sendirian menuju rute angkutan umum terdekat. Bapak itu salah satunya. Tanpa cuap-cuap tarik ulur keengganan, saya langsung saja mengiyakan amalan baiknya bahkan sebelum bapak itu menyelesaikan kalimat tawarannya. Capek cuy daripada jalan mending ada rekan buat bikin percakapan.

Hop la! saya naik dan ikut membonceng motor bebek si bapak. Percakapan dimulai dengan mengukur-ngukur darimana dan kegiatan apa; tanpa tanya nama. Sering sekali, ketika kita mengerti bahwa kita berjodoh hanya saat itu saja tanpa tindak lanjut, kita tidak memerlukan sebuah nama. Tersebut si bapak memang tinggal di daerah Sariwangi (kabupaten Bandung) dan ingin ke jalan trunojoyo untuk menghadiri kondangan.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Saya dan si bapak mengerti benar ungkapan tersebut. Jadi pada awal percakapan dimulai dengan dialek Sunda… namun nyunda itu akan hilang nantinya ketika kami masing masing tahu dari daerah mana berasal. Ternyata dia lahir dan besar di Jatinegara, tepatnya di belakang stasiun kereta. Sedang saya, si bapak tau saya dari Depok, lahir dan menghabiskan masa sekolah di Jakarta Timur. Si bapak ,yang kebetulan dapet jodoh orang sunda,  malas untuk kembali ke Jakarta karena merasa nyaman tinggal di Bandung… beliau bilang sudah tau lah Jakarta ribetnya seperti apa, bahkan di Bandung tinggal di daerah pinggir seperti Sariwangi. Selain adem, juga tenang.

Motor meluncur melewati ujung jalan raya Geger Kalong menuju Jalan Setia budi. Cas cis cus tentang darimana daerah kita berasal membuat dialek Jakarta kami muncul. Si Bapak sering hilang dalam pembicaraan, sampai pada akhirnya motor melaju di depan Borma setiabudi beliau menemukan satu tema: ngeband. Menit-menit sesudahnya, si bapak mencecoki saya dengan cerita tentang impian dia untuk ngeband. Tahun ini, katanya, dia harus ngeband dan bikin album (nama bandnya= yuk ah!).

Si bapak cerita, dia mulai dari tahun 1984 belajar musik, walau bukan teknik melainkan feelnya. Saya bilang, wah saya belum lahir tuh, beliau tidak peduli dan melanjutkan. Beliau berhenti ngeband tahun 1992, dikoreksi olehnya jadi tahun 1991. Setelah anak-anaknya sudah cukup gede, lanjut lagi katanya. Dan itu adalah saat ini. Pengorbanannya lumayan besar untuk menggapai cita-citanya… bolos kerja sering beliau jalani. Si bapak yang bekerja di Politeknik Manufaktur Bandung (daerah dago atas) seringkali tidak masuk kerja lantaran lebih memilih kegiatannya dalam bermusik. Jangan tanya seberapa beruntung beliau dalam mendapatkan duit dari musik dan seberapa hebatnya dalam pengayaan teknik, saya jelas-jelas meragukannya.

Akhir dari jalan setiabudi kami lewati. Si bapak bercerita tentang portofolio lagu-lagunya mulai dari yang berirama dangdut sampai jazz. Lucunya ada satu lagu yang selama 20 tahun terakhir belum juga terselesaikan. Lirik awal dengan refrainnya terasa gak pas, katanya. Saya jadi iseng bertanya-tanya dalam hati, sepertinya ini lagu berkisah tentang cinta pertama beliau ya he he he. Beliau juga bilang, untuk ngetes satu lagu dia kasih dengar 2 pihak berbeda.. orang awam dan yang mengerti tentang musik. Si bapak yang juga mengaransemen penuh lagu-lagunya tersebut bilang hal itu dilakukan untuk mengetahui 2 nilai, pasar dan musikalitas.

Jalan Siliwangi jadi saksi terakhir perbincangan (lebih tepatnya pidato si bapak sendiri, saya cuma sesekali menanggapi) kami malam itu. Si bapak yang mengetahui bahwa media komputer dan internet membuat dunia musik menjadi lebih maju tersebut menyimpulkan bicaranya. Beliau berkata bahwa bukan apa-apa dia bicara tentang cita-citanya, namun hal yang perlu diambil adalah ini merupakan suatu ketekunan. Saya terkejut, pembicaraan biasa ini berubah menjadi katalis kontemplasi saya (seperti tulis saya diatas, memang perjalanan pulang dari rumah Inday saya rencanakan untuk mikir-mikir sedikit). Beliau pun bilang, rajin sama tekun beda, orang rajin belum tentu tekun tapi orang tekun sudah tentu rajin. Bener juga ya?

Si bapak belok ke taman sari jadi saya diturunkan di pangkal belokan jalan; cisitu tujuan saya. Kisah yang memaparkan ketekunan beliau menjadi hadiah saya di mauludan kali ini. Saya menyimpulkan, ketekunan itu susah didapat tanpa adanya sikap berserah diri. Si bapak saja bilang, 20 tahun itu satu lagu dia bikin, belum selesai juga. Dia pasrah, karena itu dia tekun. Saya pun mendapat hadiahyang benar-benar indah: Allah SWT mengingatkan saya untuk lebih berserah diri pada-Nya.

Belokan ke taman sari sudah terlihat. Saya beranjak turun dari motor si bapak. Satu-satunya harga yang saya bayar langsung adalah jabat tangan. Walau tak kenal nama, saya merasa mesti menghargai malaikat saya malam itu. Saya jabat keras, saya juga terkejut sedikit melihat muka si bapak yang ditumbuhi uban… udah tuwir juga ya? padahal badannya masih tegap & segar. Semoga beliau diberi keberkahan dalam hidupnya, terimakasih wahai bocah Jatinegara!

Alhamdulillah… setelah kado kalender tausyiah dari Inday, kado kedua ini insya Allah dapat lebih mendekatkan diri saya kepada-Nya.

~Prett!!

(sekarang saya kentut karena masuk angin, waktu tidur pintu kamarnya si ja’i gak ditutup siih)

Filed under: FAQ me!, current affairs, family & friends, social & environment

10 Responses

  1. Laila says:

    ntar, gw kok jadi bingung ya… dia 20 tahun gak selesai bikin lagu, terus dia bilang tekun? gw gak ngerti.. apa karena 20 tahun lagunya gak selesai2 jadi dia tetap tekun belajar musik?

    • trusmansjah says:

      gak teralu nyambung sih… maksudnya tuh dia bilang jadi orang yang tekun… dn dia lagi menekuni cita2nya kembali.. bikin lagu 20 tahunnya itu masalah feelnya.. ya dia ngerasa gak cocok ajah

  2. niysa says:

    tom, gw link yaaaa ;)

  3. Laila says:

    hoooo gw kira apa….anyway, udah gw link tuh :P

  4. suarahatiku says:

    lam kenal brooo

    ini web keren yahhh sesuai dengan yang punyaaaa….

    :)

  5. satirelane says:

    panjang…

  6. trusmansjah says:

    kepanjangan nulisnya ya mot? *maapkeun*

  7. rinaldimunir says:

    “Urang awak” juga kah ini? Pernah ke Pariaman rupanya. Salam kenal. Kuliah di mana dan Prodi apa?

    • trusmansjah says:

      salam kenal pak rinaldi. saya mahasiswa DKV ITB yang berjuang untuk lulus awal tahun depan ini (doakan ya!)

      ya papa mama minang, namun dalam ‘thesis’ AA Navis dalam otobiografinya saya gak masuk dalam ketiga kategori: orang kota, orang kampung, dan orang kampung kota.

      saya, seperti banyak yang lainnya, hidup dari lahir di Jawa pak… he he he

      *gaknyangkabapakkomendisini*

Leave a Reply

This is The Trusmansjah Show!

Liebe. Trusmansjah, Toru, Matasapi; just another parttime blogger and fulltime dreamer. His Passion Tags: Art & Design, Common Room, Identity Design, Indonesia, Media.

Trusmansjah’s Twitter

  • pembajakan adalah kejahatan tanpa korban? #fb 6 hours ago
  • @unwinged so my point is, gak semuanya orang indonesia melawan VOC belanda.. ada oknum2 yang merasa nyaman. 6 hours ago
  • @unwinged FYI tentara VOC ygg ngabisin imam bonjol itu adalah preman2 ambon di jawa dg panglimanya seorang jawa. tentara bld diblkg 6 hours ago
  • @unwinged rakyat Indonesia di Jawa kayaknya ya? senapan tsb dibeli oleh Aceh kok... cuma ya pas ketauan merugikan belanda dibumihanguskan de 6 hours ago
  • @put_die halo jugaa... 6 hours ago