Saya waktu itu 12 tahun. Pemilu 1997 bagi saya seperti pesta tujuhbelasan yang lebih masif dan berlangsung lama. Karena saya melihat program kampanye di TV sangat kaku, jadinya yang saya kejar adalah arak-arakan para pendukung partai dan golongan peserta kampanye waktu itu. Saya berusaha untuk mendapat kaus dan ikut arak-arakan dengan kendaraan bak terbuka, namun tidak berhasil–mamah melarangnya.

Lambang P3 yang lama. Susah juga nyarinya nih..
Yang kerennya, ada dua koalisi konyol waktu itu–”Mega Bintang” dan “Mega Golkar”. Wajar saja karena waktu itu PDI dikuasai oleh orang-orang Soerjadi yang menjadi ketua partai dan Megawati yang dianggap sebagai pemimpin kharismatik oleh para pendukungnya merapat ke P3 (penyebutan PPP gak lazim dilingkungan saya dulu) dan Golkar.
Golkar, yang dari dulu para silent majority seperti papah saya tidak sepaham (tapi gak bisa ngomong, namanya juga silent majority) bukan peserta pemilu yang populer dilingkungan saya. Maka saya dan teman-teman yang sok-sokan ikutan kampanye dan menikmati menghina-hina antar partai dan golongan pada saat itu mendukung P3 dengan kampanye koalisi konyolnya bernama “Mega Bintang”. Alasannya? nama koalisinya terdengar cukup keren, dan pohon beringin itu kesannya seram dan banyak setannya–lambang yang gak keren dibandingkan bintang. Banyak sih alasan-alasan yang dapat ditulis, namun saya lupa.
Perihal jargon-jargon untuk menghina peserta lawan, Gibran Nuraga Nurzaman mengajari caranya. Ada 2 lagu yang saya ingat betul:
- Satu Buya, Dua Buaya, Tiga Kuya
- Satu Bintang, Dua Binatang, Tiga Kutang
Cukup menarik dan terngiang terus dikepala saya. Sampai sekarang gak ada tuh nyanyian kampanye yang bisa sebegitu nancepnya.
Walaupun pada akhirnya P3 (pasti) kalah pada pemilu 1997, namun saya tidak bersedih hati. Yang saya sedihkan adalah tidak ada lagi arak-arakan dan kampanye terbuka yang bikin jalanan macet. Seru! menurut saya waktu itu lhoo.
Saya juga dongkol dengan sedikit pengetahuan saya tentang pemilu tersebut, seperti (Alm.) Buya Ismail Hassan Metareum yang menjadi ketua partai P3 waktu itu dengan cepat dilupakan teman-teman sepermainan. Padahal buat bahan obrolan, saya ada beberapa tema perihal beliau dan partainya. Aneh juga, padahal kan namanya panjang dan unik menurut saya waktu itu (dilafazkan juga enak) jadinya saya hafal. Bendera-bendera “Mega Bintang” yang menyamai dan bahkan mengalahkan besarnya bendera Slankers dan OI (Orang Indonesia-Iwan Fals) juga pasti sudah tidak ada lagi disetiap panggung-panggung terbuka. Ya iya lah, masa kampanye sudah lewat.
Duh kangennya waktu itu, dan kalau dilihat kampanye yang sekarang sepertinya banyak muak kepingin muntah-nya dibandingkan dengan serunya kampanye 1997 yang lalu. Jadi bertanya-tanya, anak-anak usia belasan tahun (seperti saya dulu) menikmati kampanye pemilu 2009 ini dengan cara seperti apa ya? gimana pendapat ya mereka melihat banyaknya sampah visual para caleg dari partai yang berjumlah empat puluhan tersebut?
~Pret!
(saya kentut karena pake baju yang tipis walau sudah dibalut lagi dengan jaket merah marun)
Filed under: FAQ me!, family & friends, moodlog, social & environment

sekarang kalo mau bikin jargon hinaan gitu susah tom..
partainya ada banyak,cape juga bikinnya..:p
iya juga ya… ribet pastinya..
like this!
thanks bro!